Pages - Menu

Thursday, 13 November 2014

Ketukan Palu

al-faqir




Aku terduduk menggenggam palu
Berkubah atap lampu neon
Barisan kursi bak prajurit
Menatap tajam sang pesakitan

Wajah lusuh lesu terduduk
Memintal-mintal ujung tepi baju
Gugup bercampur takut
Lukisan wajah penuh guratan

Ku sertakan hati dalam ketukan palu
Menganggap benar memang seharusnya
Manusia hanya berusaha
Hakim sejati tuhan semata

Terdengar basah suaranya serak
Luapan syukur tertetes air mata
Ia bebas pada akhirnya
Tak lagi terikat sanksi hukum abu-abu
 

No comments:

Post a Comment