Pages - Menu

Wednesday, 1 July 2015

cerpen keluarga "Otong Dami Bukan Suami Istri"




Ditulis oleh : Abdullatif Alkana

Begini nih kalo jadi orang teralu polos, atau mungkin terlalu bego. Diceritakan disuatu desa yang agak terpencil, hiduplah dua anak manusia, yang berkelamin laki-laki bernama Otong usia 30 thn ia bekerja sebagai buruh tani karena sawah yang ia punya hanya satu petak, ia juga mempunyai seorang istri bernama Cesti usianya kira-kira 25 tahunan, ia juga kadang menjadi buruh tani, tapi lebih sering ngerumpi dengan tetangga. Satu anak manusia lagi berkelamin perempuan bernama Dami, ia berumur sekitar 18 tahun, ia adalah adik kandung dari Cesti istri Otong, ia sebenanrnya belum bekerja pasti hanya sebagai anak bawang yang ikut-ikutan bantu Otong dan Cesti bekerja di sawah, Orang tua Cesti dan Dami sudah meninggal, kini mereka tinggal bersama dirumah peninggalan orang tua nya, dan si Otong pun otomatis hidup dirumah itu, karena adat dikampug itu kalo seorang laki-laki menikahi perempuan maka si laki-laki akan ikut tinggal di rumah si perempuan
Suatu hari saat Cesti baru melahirkan anak ke dua nya, musim panenpun berlangsung sehingga Otong sibuk di sawah, dan mau tidak mau Dami harus membantu Otong disawah karena Cesti belum bisa bergerak banyak.
Hari minggu 18 Januari 2004 Otong mengajak Dami untuk tandur atau menanam padi disawah, tanpa basa-basi Dami pun mengiakannya karena Cesti pun menyuruhnya untuk membantu Otong menanam padi. Namun ini lah awal dari perbuatan keji itu.
Sebenarnya Otong bukan seorang yang rajin, ia lebih sering malas-malasan sehingga saat Dami menanam padi, ia hanya duduk di saung sambil ngudud, olahan daun kawung dengan tembakau terselip diantara jari tengah dan jari telunjuknya, ia pun hanya menghayal sambil sesekali menghisap udud yang ia buat, entah setan dari mana tiba-tiba Otong lebih sering memperhatikan pantat Dami yang sedang nungging menanam padi, otak ngeresnya menerawang, dan nafsu bejat nya memuncak ke ubun-ubun, dan singkat cerita entah dengan cara apa keperawanan Dami berhasil direnggut Otong, ada senyum puas disana, namun Dami tak hentinya meneteskan airmata walau tanpa suara.
Saat malam tiba Dami masih memikirkan kejadian siang tadi sambil sesekali ia usap air mata yang menetes membasahi bantal dari karung terigu, sementara Otong masih duduk diruang tamu dengan udud dan kopinya, menunggu Cesti yang masih menidurkan anaknya.
Ketika malam tinggal sepertiganya, Dami terbangun oleh suara deritan ranjangnya, ternyata didepan wajahnya sudah ada Otong yang tak lagi memakai baju, sontak Dami pun kaget dan hendak berteriak namun tangan Otong lebih cepat dari usahanya tuk berteriak, akhirya dengan segala bujuk rayu Otong, Dami kembali digumulinya sampai pagi.
Kejadian ini berlangsung sekitar empat bulan, sampai pada suatu hari, Dami terkapar dikamarnya, ia muntah-muntah dan kelakuannya agak aneh, akhirnya Cesti menemani Dami pergi ke puskesmas, dan mungkin anda sudah bisa menebak apa yang dikatakan oleh dokter, Dami HAMIL, raut muka yang tak percaya dan keheranan terlihat jelas dimuka Cesti, pikirannya bermain, entah apa yang telah dilakukan Dami diluar sepengetahuannya.
Setibanya dirumah Dami ditanyai oleh Cesti, bak seorang nara pidana yang sedang diintrogasi polisi, Dami hanya mampu menangis dan menangis, dan mengatakan bahwa yang melakukannya adalah Otong suami kakanya, Cesti mulai bingung ia limbung tak karuan, ia mengumpat-ngumpat suaminya sendiri bejat, anjing, monyet, babi, ah terlalu banyak umpatan yang di ucapkn Cesti.
Sementara Otong sedang mencangkul di sawah orang, menjadi buruh tani bekerja hanya saat ada yang meminta.
Jam empat tepatnya saat adzan ashar seleesai dikumandangkan Otong sampai dirumahnya, ada pemandangan yang tak wajar yang ia temui, dipintu rumahnya sudah berdiri Cesti dengan sorot mata yang tajam bak elang yang sedang mencari mangsa, tangannya mengepal meremas-remas telapak tangannya sendiri seolah gatal digigit semut, Otong berjalan keheranan menghampiri istrinya dan saat Otong tepat dihadapan istrinya, sebuah pukulan yang tak terelakan mendarat dipipinya, Otong bertanya-tanya kepada istrinya, namun sebuah jawaban tertuju kesebuah kamar, akhirnya Otong mafhum dia memelas-melas maaf dari istrinya, istrinya tak sama sekali mengindahkan nya, mungkin karena hatinya sudah koyak tak ada lagi rasa ingin memaafkan Otong suaminya.
Pada akhirnya dua saudara Cesti dan Dami menjadi istri Otong, entah tlah beku atau tlah hilang hati Cesti yang rela berbagi suami dengan adiknya sendiri, dam Dami yang terlalu bego yang mau-maunya menjadi santapan Otong, dalam kasus ini Otonglah yang mendapat keuntungan berlipat ganda, mendapat dua istri dan seluruh harta peninggalan keluarga istrinya.

puisi sedih "Untuk Permaisuriku"



Tak pernah ada dalam bayangku
Kesendirian hidup tanpa hadirmu
Sungguh kebahagian kita dahulu begitu kurindukan
Tak ada satu detikpun kebersamaan kita yang kulupa

Kukira selamanya kita kan tetap bersama
Namun memang Tuhan belum meridhainya
Kau lebih dahulu menghadapNya
Meninggalkanku yang mulai rapuh

Namun mutiara buah cinta kita selalu mampu menjadi pelipur lara
Rona wajahnya mengingatkanku akan dirimu
Tawa cerianya menggelitik jiwa mengusik rindu akan namamu
Tiada satu hari pun berlalu tanpa bersamanya

Keinginan terbesarku hanyalah satu
Kehidupan bersamamu lagi lah keinginan itu
Aku berjanji akan lebih memperhatikanmu
Menjagamu agar tak kedinginan saat malam datang
Membenarkan letak selimutmu saat kau terlelap
Mengecup keningmu saat ku coba membangunkan mu tuk tahajud bersama
Selalu berdiri didepan tuk jadi imam shalatmu
Menyayikan lagu cinta saat kau merajuk
Permaisuriku
Relakah kau menungu hadirku walau seribu bidadari mencoba mendekapmu
Tetap menjaga cinta kita tuk selamanya

Aku takan pernah lelah bercerita tentang mu pada buah hati kita
Mengajarinya supaya mendoakanmu dialam sana
Supaya saat kita berkumpul kembali ikatan diantara kita tak pernah merenggang
Permaisuriku
Tunggu aku dalam damaimu
Jaga cintaku atas cintamu

Kamis, 21 Mei 2015
Oleh : Rudiana Abdullatif